Kalo ditanya
pengalaman menarik pada saat mengajar rasanya semua menarik, karena harus
memahami satu persatu karakter mereka, yang paling menarik adalah mendampingi
anak-anak yang berada dikelas bawah. Saya butuh ekstra kesabaran dan strategi
yang menarik agar meraka dengan cepat menguasai.
Pagi itu waktunya
masuk dikelas anak-anak yang memiliki karakter yang bervariasi yang kelas 9E,
segala strategi sudah saya persiapkan matang-matang mulai dari rencana A, B,
dan C. Pokok semua rencana sudah matang, dengan langkah pasti kubuka kelas dan
menyapa mereka, melihat sepintas raut muka mereka sangat bervariasi, ada yang tsayat
ada yang biasa-biasa saja ndak peduli sama sekali ada yang semangat, pokoknya
lengkap dah di kelas ini. Seperti biasa saya tanya kepada mereka siapa yang
belajar tadi malam, hanya 3 orang saja mengacungkan tangan yang lain ndak
sempat belajar karena capek dan sibuk bermain katanya. Ok rencana harus dirubah
berarti mereka harus mendengar penjelasan dulu baru diminta untuk berkerja
dalam kelompok. Kumulai penjelasan dengan pelan dan sabar dan memilih kata yang
sederhana dengan harapan mereka semua bisa mengikuti penjelasan. Beberapa dari
mereka terlihat mengikuti dan memperhatikan penjelasan dengan baik, waktu itu
materinya adalah pewarisan sifat. Menurutku materi ini memang sederhana tetapi
agak sulit dipahami karena melibatkan hitungan matematis, saya coba kasih
contoh tahap demi tahap dan beberapa kali saya memastikan apakah kalian
mengerti....?, dengan pasti mereka menjawab “ngerti......”, lega rasanya saya
mendengar jawaban itu. Nah untuk memastikan apakah mereka benar-benar bisa
seperti biasa saya kasih satu contoh soal, saya beri waktu beberapa menit agar
mereka mengerjakan, betapa tidak terkejut hampir semua anak-anak bilang merasa
kesulitan mengerjakan, pada hal saya hanya merubah angkanya saja, kemudian
mereka meminta menjelaskan ulang materi yang tadi saya jelaskan, dengan sabar saya
coba jelaskan sampai tiga kali, saya perhatikan beberapa diantara mereka
menunjukkan putus asa karena selalu salah menjawab dan bilang “loh kalo saya
liat ustad menjelaskan kok gampang ya, tapi kenapa kok ketika saya ngerjakan
sendiri ndak bisa”. Dalam hatiku berkata ahh ini bisa diatur kalo anak seperti
ini kan masih punya semangat. Kemudian coba saya bertanya kepada kelompok anak
sepesial yang dipromotori oleh Faruq dan kawan-kawan ternyata mereka juga
meresa kesulitan, oke saya putuskan untuk menjelaskan kembali, seperti biasa
dengan semangat saya jelaskan, tiba-tiba mereka bertanya “ sebentar ustad, itu
nanti kalo keluar di unas berapa soal sih?, dengan pasti saya jawab ya antara 2
sampai 3 soal lah. Spontan mereka menjawab, owalah belajarnya sulit gini
keluarnya cuman 2, trus buat apa kita mikir susah-susah kan pilihan ganda,
tinggal pilih salah satu sudah selesai ndak usah mikir benar salahnya hehehehe.”
Mendengar jawaban itu saya terdiam seketika dan merasa kecewa karena dari awal
sudah semangat menjelaskan ternyata motivasi dalam diri mereka sangat rendah,
dan cenderung menggampangkan segala sesatu, ingin rasanya langsung marah kepada
mereka karena penjelasanku sangat tidak dihargai, waktu 2 jam pelajaran
berakhir dengan kekecewaan begini, tetapi saya harus bersabar dengan anak-anak
ini, dan saya coba memberikan motivasi kepada mereka dan saya jelaskan ya kalo
memang begitu mau kalian semoga materi lainnya kalian bisa menjawab dengan
benar, biarlah 3 soal ini salah. Coba banyangkan kalo semua soal kamu anggap
begini, trus apa jadinya nanti.
Dari pengalaman
ini ada satu pelajaran berharga yang harus saya asah setiap saat yaitu sabar,
sabar dan sabar dalam memahami karakter anak-anak, bagaimanapun juga mereka
masih butuh bimbingan kita. Dan dari merekalah akhirnya muncul ide-ide kreatif
saat merencanakan pembelajaran. Sebenarnya mereka punya potensi, karena mereka
belum berhasil menggali saja dan saya yakin kelak mereka punya akan menunjukkan
keunggulan masing-masing.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar