Jumat, 20 Januari 2017

“DENGAR, CERMATI DAN RESPON”

Belajar tak terbatas waktu selama hayat masih dikandung badan kewajiban kita untuk senantiasa belajar dan meningkatkan pengetahuan, termasuk belajar kepada siapapun.
Pagi itu adalah pagi yang biasa saya berangkat mengantar sang malaikat kecil-ku berangkat kesekolah, seperti biasa selalu melewati rute tetap, kalaupun ada kemacetan baru beralih ke rute alternatif. Pada saat itu memang tidak ada kondisi yang mengharuskan saya melewati rute lain, entah apa yang saya pikirkan sehingga lewat rute yang tidak biasa, spontan si kecil dari belakang mengingatkan “lho ayah kok lewat sini se….”, dengan mudah saya menjawab “kan ndak pa-pa lewat sini biar beda”. ku biarkan begitu saja dalam hati ku ah anak kecil tau apa yang penting kan sampek sekolah. Kuturunkan di sekolah kemudian saya melihat roman muka yang masam di wajah anak-ku, kubiarkan saja berlalu sampai sore hari. Ketika sore sudah beda muka masam tadi berganti dengan senyuman, entah apa yang membuatnya berubah. Di perjalanan pulang ternyata si-kecil masih menyimpan “rasa” pada pagi tadi nyeletuk “Ayah tak ingatkan besok tidak boleh lewat jalan yang tadi lho ya, awas kalo lupa lagi”. Kujawab spontan oke maaf ya karena tadi pagi salah jalan.
Keesokan hari seperti biasa berangkat mengatar ke sekolah, ternyata entah apa penyebabnya diperjalanan tiba-tiba blank, kemudian lewat jalan yang tidak seharusnya, spontan diingatkan oleh anak-ku “ Ayaah salah jalannya…….”. “Astaghfirullah” jawab-ku “maaf ya, lha terus gimana ini sudah kadung jauh e…., ayah harus balik pokoknya”. Sambil menepuk-nepuk punggungku dan merengek keras di tengah jalan. Dalam hati ku kesal juga sudah kadung jauh malah diminta kembali ke rute semula, tak banyak bicara kuturuti saja karena kalo tidak maka dampak psikologinya tidak baik, pasti akan menampakkan muka yang cemberut dan tidak fresh pada akhirnya akan berpengaruh pada aktivitas sehari itu.

Istiqomah memang sangat berat, perlu orang lain untuk selalu menjadi pengingat kita, pagi itu saya sedang belajar istiqomah dari seorang anak yang polos dan apa adanya yang semestinya patuh dan hormat kepada saya. Alhamdulillah aku telah dikarunia buah hati yang menyejukkan hati dan Dia adalah “pengingat-ku” dalam setiap do’anya.

Senin, 16 Januari 2017

DUA SISI MATA UANG (MENGAJAR DAN MENULIS)

Oleh : M. Farkhan Habib

Jauh sebelum menginjakkan kaki ke Surabaya untuk melanjutkan studi lanjut ke IKIP Surabaya sekarang UNESA, tepatnya menjelang UNAS tingkat MAN/SMU yang bertepatan dengan pengumuman penerimaan mahasiswa jalur PMDK dan alhamdulillah nama saya tertulis di pengumuman itu, tersirat dibenak saya “Berarti saya akan mejadi guru”, ketika itu lamunan saya tertuju pada sosok guru Fiqih  yang mengajar di kelas pada saat itu, dimana beliau sangat disukai teman-teman sekelas karena kearifan dan kebijaksanaan beliau. Ketika beliau sudah berada di dalam kelas tidak satupun dari teman-teman beranjak dari tempat duduk. Biasanya ketika guru yang mengajar “membosankan” ada saja ulah teman-teman, yang sering ijin ke belakang, yang ngatuk, ijin ke UKS dan sebagainya.
Seusai wisuda dari UNESA maka resmilah saya mendapatkan lisensi untuk mengajar di sekolah-sekolah formal. Masih terngiang dan terpatri kuat gambaran guru ideal memenuhi kepala ini, dan pertanyaan yang tak kalah terbayang adalah “apakah saya bisa?” saya berangan-angan jika nanti saya jadi guru maka hal yang pertama yang harus saya lakukan adalah menarik perhatian siswa agar ‘senang dan nyaman’ jika ketemu dalam forum pembelajaran ataupun di luar kelas. Jika kesan pertama sudah positif maka selanjutnya terserah kita mau dibawa kemana mereka.
Seiring perjalanan waktu selama 7 tahun ini banyak pelajaran yang sudah saya peroleh ketika berinteraksi dengan siswa di sekolah, setiap tahun selalu bertemu dengan siswa-siswa yang memiliki keunikan masing-masing. Barangkali itulah keindahan dan karunia yang tak pernah kita dapatkan jika kita berprofesi lain. Belum lagi ketemu dengan orang tua mereka yang memiliki segudang cerita tentang kehidupan keluarga masing-masing. Dari sini saya merasa bahwa guru adalah orang kepercayaan orang tua dalam mendidik ilmu pengetahuan umum dan agama.
Guru “digugu lan ditiru” barangkali itulah takdir kita sebagai guru, kesabaran senantiasa mengalir dalam setiap helaan nafas kita dan senantiasa kita jadikan sebagai sapu tangan pembasuh tatkala kita lelah menerpa, keikhlasan senantiasa menyatu dalam darah yang mengalir ke seluruh bagian tubuh kita dan tak pernah berhenti sedetikpun, ketabahan senantiasa menjadi perisai kita dikala duka menghampiri. Sebagai pewaris dan penerus dakwah para Nabi, Kita harus menjadi orang yang “kuat” dimata anak-anak kita.
Alinea diatas bisa menjadi pemompa semangat saya untuk senatiasa menjadi penebar dakwah penerus risaah Ilahi dibidang pendidikan dari generasi ke generasi. Banyak hal yang harus kita persiapkan agar kita benar-benar bisa menjadi guru yang patut dihormati dan ditiru. Pengalaman dan bekal pertama adalah bagaimana kita bisa menjadi kepala keluarga yang bisa menentramkan seisi rumah, senantiasa menjadi motivator dikala kesusahan dan masalah sedang melanda keluarga, berusaha menjadi ayah yang sempurna bagi anak-anak kita dan dan menjadi partner hidup bagi istri kita.
Berbagai ketrampilan juga wajib kita kuasai yang meliputi kemampuan pedagogik secara holistik, serta berbagai ketrampilan-ketrampilan dalam rangkaian pembelajaran di kelas yang meliputi ketrampilan menjelaskan, ketrampilan bertanya, ketrampilan memberikan penguatan dan ketrampilan pengelolaan kelas. Untuk meningkatkan berbagai ketrampilan tersebut ada satu aktifitas yang bermanfaat ganda yaitu ketrampilan menulis. Menulis dapat dijadikan sebagai wahana untuk mengepkspresikan segala keinginan secara bebas.
Seiring dengan perkembangan teknologi informasi, menulis bisa digunakan sebagai wahana dakwah dan pendidikan yang lebih fleksibel dan efisien yang tidak dibatasi oleh ruang dan waktu siapa saja bisa membaca. Menulis adalah bagian yang tak terpisahkan dari guru, jika seorang guru sudah kehilangan selera menulis pertanda bahwa guru tersebut sudah kehilangan selera membaca, jika seorang guru sudah kehilangan selera membaca pertanda ilmunya akan berhenti dan tidak jauh beda dengan orang jualan jamu, tiap hari menyampaikan kalimat-kalimat yang sama kepada pembeli, laku dan dapat uang adalah tujuan utama.
Menulis merupakan salah satu alternatif sarana untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan, jika dikelas yang kita hadapi adalah siswa tetapi lewat tulisan bukan hanya siswa tetapi masyarakat luas dengan segala bentuk keragamannya, untuk itu aturan-aturan penulisan harus kita pegang dengan baik agar tidak mengundang perbedaan persepsi antar pembaca satu dengan yang lain. Ketika tulisan kita banyak yang membaca maka semakin cepat pula apa yang kita sampaikan tersebar ke seluruh kalangan.
Jika bisa digambarkan menulis dan mengajar (sebagai guru) adalah dua sisi mata uang yang saling mendukung dan tak dapat terpisahkan, jika salah satu saja tidak dikembangkan atau tidak ada maka uang tersebut tidak ternilai. Oleh karena itu menulis adalah ketrampilan yang mutlak dimiliki oleh guru. Untuk dapat menulis bisa dimulai dengan strategi pertama banyak membaca, dengan membaca maka akan banyak kosakata yang kita peroleh dengan berbagai situasi yang berbeda. Kemudian setelah membaca maka berlatih menceritakan kembali bacaan yang kita baca dengan menuangkan dalam bentuk tulisan dengan bahasa dan alur sesuai keinginan kita tetapi tetap memperhatikan kaidah penulisan bahasa yang baik dan benar. Sebagai seorang guru menulis bisa dimulai dengan tema-tema yang sesuai dengan subyek yang diampunya, dimulai dengan membaca berbagai bacaan sesuai subyek yang diampu kemudian membuat tulisan berupa konsep-konsep dasar ilmu yang diampunya dengan menyertakan sumber-sumber yang dipakai agar tulisan kita bisa dipertanggung jawabkan secara ilmiah dan valid.
Ada strategi yang kedua yaitu menuliskan segala kejadian yang terjadi pada kehidupan kita mulai dari bangun tidur sampai dengan tidur kembali. Menulis bebas seperti ini sangat mudah dan siapapun bisa melakukan tergantung kemauan. Jika kita sering berlatih dan meluangkan waktu untuk sekedar menulis, insyaallah ketrampilan menulis kita akan terasah dan semakin baik.
Dengan demikian menulis sebenarnya aktifitas yang sangat mudah jika kita tahu kapan dan dimana kita harus mulai. Jika dikaitkan antara menulis dan mengajar adalah dua aktifitas berkaitan dan tak terpisahkan satu sama lain.