Senin, 27 April 2009

Meraih "Kekuatan" Lewat Tahajud


Dari dua dini hari hingga subuh hampir tersentuh, waktu-waktu ini disambut para muhsinun dengan wajah penuh cahaya. Sepertiga malam terakhir adalah malam yang diyakini bertabur mukjizat. Tetesan dan percikan air wudlu yang jatuh ke bumi menambah indah malam yang hening. Santai dan rileks. Mereka pun mengerjakan shalat tahajud. Shalat yang didirikan setelah terjaga dari tidur.
Sembilan cawan perkara siap disuguhkan Allah kepada para muhsinun. Lima cawan perkara di dunia dan empat cawan perkara di akhirat. Sembilan cawan perkara itu akan memuliakan para muhsinun.

Lima perkara itu antara lain :
1. Allah menjaganya dari bencana-bencananya.
2. Tampak bekas taat di wajahnya.
3. Ia akan disenangi oleh hamba-hamba yang shalih bahkan oleh semua manusia.
4. Katanya-katanya mengandung hikmah;
5. Allah memberikannya rezeki kepahaman terhadap agama.

Adapun yang empat di akhirat adalah :
1. Dibangkitkan dari kubur dengan wajah yang putih dan cemerlang.
2. Dimudahkan baginya hisab;
3. Berjalan di atas shirat (jembatan di akhirat) laksana kilat (bagai petir menyambar)
4. Diberikan kitab catatan amalnya melalui tangan kanan pada hari kiamat

Demikian nukilan keutamaan dari buku The Power of Tahajud yang ditulis Ahmad Sudirman Abbas, terbitan Qultummedia. Buku ini dibuka dengan pemahaman soal Shalat Tahajud pada bagian pertama. Dari Pengertian, keutamaan, tata cara shalat tahajud hingga perenungan soal shalat ini.

Tentang perintah menegakkan shalat tahajud disebutkan dalam Surat Al Isra [17]: 79 "Dan pada sebagian malam hari, bertahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu. Mudah-mudahan Tuhanmu mengangkat kamu ke tempat terpuji."

Dalam bab dua kisah nyata pelaku tahajud diungkapkan penulis. Misalnya Prof.Dr. Harun Nasution, mantan rektor UIN Jakarta yang didekatkan peristiwa-peristiwa di luar akal manusia. Kedekatan pada alam ghaib ditunjukkan dalam keseharian Harun Nasution. Tabir gaib yang terbuka dihadapannya tak membuatnya takut. Setelah berkonsultasi dengan Abah Anom, seorang ulama dari Tasikmalaya, kejadian-kejadian “horor” membuatnya lebih maklum dan terbiasa. Sebagai pelaku tahajud beliau lebih merasa tenang dan tabah.

Tentang waktu-waktu dini hari, ada sebuah saran dari Prof. Dr. Harun Nasution kepada Prof. Dr. Ahmad Sukardja, S.H. MA, saat ingin meraih gelar doktor, "menulislah pada pukul 02.00 dinihari atau pukul 03.00 dinihari. Nasihat ini dilakukan, alhasil disertasinya selesai dalam tempo cepat. Inilah tips penting dari beliau soal bangun tengah malam untuk beribadah dan berkontemplasi.

Dalam buku The Power of Tahajud ini, banyak manfaat dari shalat tahajud antara lain : memberikan kekuatan lahir dan batin, memberikan perasaan tenang, memberikan posisi terhormat (maqam mahmuda), memberikan tahajud, dan lain sebagainya. Selamat meraih manfaat lewat tahajud.

Meraih Keutamaan dan Kemuliaan Shalawat

Shalawat memiliki keutamaan dan kemuliaan yang begitu banyak. Ibnu Qayim Al-Jauziyah menjelaskan 40 keutamaan dan kemuliaan shalawat atas Rasulullah saw bagi yang membacanya. Maka, membacanya berarti kita telah mendapatkan 40 keutamaan dan kemuliaannya.

Dalam buku “Mukjizat Shalawat” yang ditulis oleh Habib Abdullah Assegaf, Lc., M.A & Hj. Indriya R. Dani, S.E. disebutkan dari ke-40 keutamaan dan kemuliaan shalawat tersebut. Di antaranya sebagai berikut.

1. Menaati perintah Allah SWT.

Sebagaimana pengertian shalawat dalam Al-Qur`an surat Al-Ahzab (33) ayat 56, shalawat adalah doa yang ditujukan kepada Rasulullah saw sebagai bukti rasa cinta dan hormat kita kepadanya. Ia doa dari para malaikat, bahkan Allah SWT memerintahkan malaikat untuk mendoakan mereka yang bershalawat. Jika kita membaca shalawat, berarti kita menaati perintah Allah SWT ini.

2. Keselarasan Allah SWT dalam bershalawat atas Rasulullah saw. Namun, shalawat-Nya dan shalawat kita berbeda. Shalawat kita bermuatan doa dan permohonan, sedangkan shalawat Allah bermuatan pujian dan pengagungan.

3. Keselarasan atas Malaikat-Nya dalam bershalawat.

Shalawat dari Allah SWT berarti memberi rahmat bagi Rasul-Nya, sedangkan dari malaikat berarti memohon ampunan (istigfar) baginya. Sebagaimana dalam hadits riwayat An-Nasa`i, Rasulullah saw bersabda, “Malaikat Jibril datang kepadaku sambil berkata, ‘Sangat menyenangkan untuk engkau ketahui wahai Muhammad bahwa untuk satu shalawat dari seorang umatmu, akan kuimbangi dengan sepuluh doa baginya, dan sepuluh salam bagimu, akan kubalas dengan sepuluh salam baginya.'.”

4. Memperoleh 10 shalawat dari Allah SWT.

Berdasarkan hadits riwayat Muslim, Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa bershalawat kepadaku satu kali, Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali.” Itu berarti Allah SWT akan memberi sepuluh rahmat bagi orang yang bershalawat kepadaku, meski hanya satu kali.

5. Derajatnya diangkat sepuluh derajat oleh Allah SWT.

Sesuai hadits Rasulullah yang berbunyi, “Barangsiapa bershalawat satu kali saja, Allah akan memberi sepuluh rahmat sama dengan sepuluh derajat baginya.”

6. Mendapatkan catatan sepuluh kebaikan.

Diberikan sepuluh rahmat apabila bershalawat satu kali saja. Itu berarti sama dengan ditulis sepuluh kali kebaikan baginya.

7. Sepuluh keburukan dihapus darinya.

Membacakan satu kali saja shalawat akan mendapat sepuluh rahmat dari Allah SWT sekaligus dihapus sepuluh keburukannya.

8. Apabila mengawali doa dengan shalawat, diharapkan akan diijabah, karena shalawatlah yang akan mengantarkan doanya di sisi Allah SWT.

9. Shalawat akan mendatangkan syafaat dari Rasulullah saw bagi yang membacanya. Hal ini apabila diiringi (dengan permintaan) wasilah kepadanya atau tanpanya.

10. Menjadikan kifarat atau ampunan terhadap dosa.

Ini jelas karena dengan bershalawat, sepuluh keburukan dihapuskan. Itu berarti menjadi kifarat yang menghapus dosa kita.

11. Shalawat akan mencukupkan apa yang diinginkannya.

Usaha dan doa yang terus-menerus akan memacu seorang hamba dalam pekerjaan dan kegiatannya. Oleh karena itu, biasanya orang yang sering bershalawat lebih rajin dalam mengusahakan apa yang diinginkannya.

12. Shalawat menjadikannya seorang hamba dekat dengan Rasulullah saw pada Hari Kiamat kelak.

Ini karena pembaca shalawat kelak akan mendapatkan syafaat dari Rasulullah di akhirat. Itu berarti ia akan dekat dengan beliau.

13. Shalawat merupakan bentuk sedekah bagi orang yang tidak mampu bersedekah.

14. Shalawat menjadikannya dipenuhi hajat-hajatnya.

Sama halnya seperti dalam penjelasan shalawat akan mencukupkan apa yang diinginkannya. Jika kita ikhlas bershalawat untuk Rasulullah, niscaya Allah akan memenuhi hajat-hajat kita.

15. Shalawat menjadikan Allah SWT bershalawat untuk yang bershalawat kepada Rasulullah saw dan juga malaikat-malaikat-Nya.

16. Shalawat merupakan zakat bagi yang bershalawat dan menyucikannya.

Hakikat berzakat adalah menyucikan diri. Dengan bershalawat, seseorang telah menyucikan dirinya, karena sepuluh dosanya dihapuskan dan sepuluh kebaikan diberikan kepadanya.

17. Shalawat akan memberikan kabar gembira tentang surga kepada seorang hamba yang melakukannya sebelum kematian.

18. Shalawat akan memberikan keselamatan dari bencana pada Hari Kiamat nanti.

19. Shalawat menjadikan Rasulullah saw menjawab shalawat dan salam dari umatnya yang bershalawat baginya.

20. Shalawat menjadi pengingat apa yang menjadi lupa.

Shalawat seperti shalat, yang berarti mengingat terus Allah SWT. Dengan bershalawat, kita akan diingatkan agar tidak melupakan-Nya, baik melalaikan shalat maupun perintah lainnya.

21. Shalawat memberikan kebaikan pada suatu majelis dan penghuninya tidak akan mendapat kerugian pada Hari Kiamat.

22. Shalawat dapat mencegah kefakiran.
Shalawat yang dilantunkan terus-menerus mendorong seseorang untuk berbuat baik dan bersemangat dalam kehidupannya. Oleh karena itu, ia menjadi rajin dalam bekerja, yang tentunya mencegahnya dari kefakiran.

23. Shalawat mencegah seorang hamba dari sifat kikir apabila ia bershalawat atas Rasulullah saw, saat namanya disebutkan di sisinya.

24. Ia selamat dari panggilan “orang yang celaka atau binasa”. Sebuah panggilan yang ditujukan kepada yang meninggalkan shalawat untuk Rasulullah saw ketika namanya disebutkan.

25. Shalawat mengantarkan seorang hamba ke jalan surga, sedangkan yang meninggalkannya telah salah dan menempuh jalan ke neraka.

26. Shalawat menyucikannya dari kebusukan majelis apabila di dalamnya tidak terdapat zikir kepada Allah SWT dan Rasulullah saw. Itu karena memuji (Allah) dan bersyukur atas-Nya di dalamnya, serta bershalawat atas Rasulullah saw.

27. Shalawat menjadikan sempurnanya kalam yang dimulai dengan pujian kepada Allah Swtwt dan shalawat atas Rasulullah saw.

28. Shalawat menjadikan terangnya cahaya Allah bagi seorang hamba dalam menempuh jalan yang lurus.

29. Dengan shalawat, seorang hamba diperkecualikan dari sikap kasar.
Kebaikan akan selalu menyertainya dan terhindarkan dari segala keburukan.

30. Shalawat menjadikan motif tetapnya adalah Allah SWT dalam memberikan pujian yang baik bagi Rasulullah saw.

Hendaknya kita selalu bershalawat, kapan pun dan di mana pun kita berada. Bershawatlah dengan ikhlas hanya mengharapkan rahmat dan ridha-Nya, serta sebagai bukti tanda cinta sekaligus penawar rindu kepada Rasulullah saw. Dengan demikian, keutamaan, manfaat, dan mukjizat shalawat akan datang menjemput Anda, baik disadari maupun tidak. Anda akan mendapatkan perubahan yang positif dalam kehidupan sehari-hari.

* Artikel ini dikutip dari sebagian isi buku “Mukjizat Shalawat”. Habib Abdullah Assegaf, Lc., M.A & Hj. Indriya R. Dani, S.E. QultumMedia. 2009.

Minggu, 26 April 2009

Amalan Penyempurna Shalat Fardhu

“Sesungguhnya pertama-tama yang akan diperhitungkan (hisab) dari amal perbuatan manusia pada Hari Kiamat kelak adalah shalat. Rabb kita akan berfirman kepada malaikat-malaikat-Nya. Karena Dia Dzat Yang Maha Mengetahui, “Wahai para malaikat-Ku, periksalah shalat hamba-Ku, sudahkah sempurna shalatnya atau masih kurang? Apabila didapatkan sudah cukup sempurna, akan dicatat sudah sempurna. Akan tetapi, apabila didapati kurang sempurna, Allah akan berfirman, “Periksa kembali, apakah hamba-Ku itu memiliki amalan shalat sunah (tathaawwu’)?” Apabila didapati bahwa ia memiliki amalan sunah tambahan (shalat sunah tathawwu’), Allah akan berfirman, “Cukupkan dan sempurnakan shalat fardhu hamba-Ku itu oleh shalat sunahnya.” Kemudian, amal perbuatan sang hamba itu diperhitungkan menurut cara seperti ini.” (HR Abu Daud)

Hadits di atas merupakan kabar dari Rasulullah bahwa shalat adalah amal perbuatan yang pertama-tama dihisab di akhirat kelak. Jika kurang sempurna shalatnya, celakalah ia. Namun, Allah menegaskan, jika hamba-Nya memiliki amalan shalat sunah atau tathawwu’, Allah menjadikannya sebagai penambal atau peyempurna atas kekurangan shalat fardhunya tersebut.

Keutamaan yang dimaksud di atas dapat digambarkan sebagai “lem” yang berfungsi melengketkan dua benda terpisah, juga bisa digunakan menambal benda bocor atau berlubang sehingga sempurna. Shalat-shalat fardhu sebagai penyanggah berdirinya bangunan agama akan kelihatan kokoh, kuat, dan indah ketika bentuk penyanggah itu disempurnakan polesan-polesan penguat sekaligus pewarna yang indah oleh tambahan shalat-shalat sunah tathawwu’ tersebut.

Dalam hadits lain, disebutkan juga bahwa Allah lebih memerhatikan shalat sunah yang dikerjakan hambanya daripada amal perbuatan lainnya. Allah juga akan melimpahkan kebaikan di atas kepala hamba tersebut selama ia dalam shalat. Selain itu, shalat juga merupakan sebaik-baik amal perbuatan manusia, dan tidak didapati pada ibadah-ibadah lainnya.

Tentu saja ini adalah keutamaan-keutamaan yang sangat besar artinya bagi kita. Di mana, pada Hari Perhitungan nanti tidak ada yang bisa menolong kita. Masing-masing akan sibuk, panik, dan semuanya akan mempertanggungjawabkan amal perbuatannya masing-masing ketika di dunia. Tidak akan ada seorang pun yang bisa menambal kekurangan amal shalat fardhu kita.

Nah, melalui amalan shalat sunah inilah kita akan tertolong dalam menyempurnakan kekurangan-kekurangan shalat fardhu kita. Sedangkan apabila sudah sempurna shalat fardhunya, shalat sunahnya akan tetap menjadi tambahan yang akan berbuah balasan yang setimpal dari Allah berupa nikmat-nikmat dari-Nya kelak.

Akan tetapi, dalam mengerjakan shalat sunah, kita mesti memerhatikan dan melaksanakannya sesuai yang diajarkan Rasulullah saw. Tujuannya, agar shalat kita diterima dan mendapatkan nilai ibadah yang bernilai di sisi-Nya. Untuk itu, memelajari ilmu shalat sudah jadi hal yang wajib dilakukan bagi setiap muslim. Sebagaimana disebutkan dalam kaidah fikih “Sesuatu yang tidak bisa sempurna kecuali dengan suatu hal lain, maka hal tersebut menjadi wajib (dilakukan atau diadakan)”.

Dengan demikian, ilmu shalat mesti dijadikan ilmu dasar yang harus dikuasai oleh setiap muslim. Sebab, shalat dan amal ibadah lainnya tidak akan memiliki nilai yang berarti tanpa diiringi ilmunya. Bahkan, bisa berakibat tidak sahnya shalat yang kita lakukan sepanjang hari tersebut, karena adanya kemungkinan tertinggalnya suatu perkara yang mesti dilakukan ataupun adanya perkara-perkara yang dikerjakan padahal bisa membatalkan ibadah shalat kita.

Keajaiban Shalat Rawatib

Shalat sebagai bentuk ibadah kepada Allah SWT memiliki kekuatan supernatural yang berbekas pada diri setiap orang yang mendirikan shalat. Shalat mampu membentuk kepribadian positif yang bersumber dari cahaya Iman yang dipancarkan Allah SWT. Sebagaimana dijabarkan dalam buku “Keajaiban Shalat Rawatib” karya Dr. Ahmad Sudirman Abbas, M.A., efek kekuatan shalat di antaranya sebagai berikut.

1. Shalat sebagai unsur pembentuk kepribadian seorang mukmin

Al-Qur`an telah menampilkan shalat dari berbagai segi. Di bagian terdepan dari permulaan Al-Baqarah, diterangkan bahwa shalat itu merupakan sifat orang-orang yang memperoleh petunjuk dari Tuhan dan mereka adalah orang-orang beruntung.

Shalat merupakan unsur kedua dari unsur-unsur keimanan perorangan. Di samping itu, ditampilkan pula bahwa shalat merupakan salah satu unsur dari unsur-unsur kebaikan dan kebenaran yang telah ditetapkan Allah bagi hamba-Nya. Allah menyeru hamba-Nya untuk menunaikannya. Allah menjadikan unsur tersebut sebagai kebenaran keimanan mereka dan mengangkat mereka sebagai orang-orang yang bertakwa. Selain itu, shalat merupakan sarana bagi pencapaian pahala orang yang mengabdi untuk kemaslahatan umum. Sebagaimana difirmankan Allah SWT.

2. Pengaruh shalat bagi pendidikan kejiwaan

Al-Qur'an juga menerangkan tentang pengaruh shalat di dalam mendidik jiwa manusia, menyelamatkannya dari perbuatan keji dan mungkar, serta membersihkannya dari naluri jahat yang merusak kehidupan manusia.

Sebaliknya, Al-Qur`an juga menegaskan bahwa meninggalkan shalat merupakan tanda tenggelam seorang manusia ke dalam hawa nafsu dan jatuhnya ke dalam jurang kecelakaan dan kesesatan. Hal ini juga merupakan salah satu sebab di antara sebab-sebab keabadiannya kelak di dalam neraka.

Di dalam surat Al-Ma’un terdapat isyarat kuat yang menyatakan bahwa melalaikan shalat, tidak menunaikan hak Allah di dalam hal kekhusyukan (perasaan diawasi Allah dan perasaan akan keagungan-Nya) sebagai sebab besar di dalam mendustakan keberadaan Hari Kiamat, menghina anak yatim, dan menyia-nyiakan hak fakir miskin. Ini

Pada dasarnya, shalat lima waktu merupakan rangkaian perjalanan menghadap Tuhan, yang telah diwajibkan Allah kepada hamba-Nya di dalam waktu yang berbeda, pada setiap siang dan malam hari. Di dalam shalat, seorang mukmin melepaskan dirinya dari segala urusan duniawi dan menumpahkan seluruh pengabdiannya kepada Tuhannya dengan cara mengingat kebesaran-Nya, bermunajat kepada-Nya, dan memohon pertolongan serta petunjuk dari-Nya.

Di dalam shalat itu pula, dia menyerahkan diri sepenuhnya ke dalam perlindungan Tuhan Yang Maha Pengasih, sambil menghayati kebesaran-Nya yang mutlak. Ia menjadi kecil di hadapan kebesaran-Nya dari segala kebesaran yang ada dalam kehidupan dunia ini. Sesungguhnya perjalanan ini dapat melepaskan duka nestapa, meringankan kesengsaraan, dan mewujudkan segala keinginannya yang baik.

Telah menjadi sunah Nabi Saw apabila terjadi sesuatu yang menggelisahkan hatinya, beliau melepaskannya dengan shalat, kemudian beliau bersabda.

"Telah diwujudkan kecintaanku tercurah kepada shalat."

4. Ibadah jasmaniyah tertua sepanjang risalah ketuhanan

Shalat berpengaruh besar di dalam mendidik jiwa dan mendekatkannya ke alam kesucian. Ia juga merupakan ibadah yang dikenal paling tua seiring lahirnya keimanan. Bahkan, tidak ada satu syariat pun yang meninggalkan shalat. Demikian yang diriwayatkan dari para nabi dan rasul.

5. Shalat pengiring keimanan

Kedudukan shalat di sisi Allah dan di dalam agama-Nya merupakan unsur pengiring keimanan pada seluruh risalah yang disampaikan oleh semua rasul. Islam telah datang, kemudian ia pun menempuh jalan yang dilalui oleh risalah terdahulu dan menjadikan shalat itu sebagai salah satu rukun di antara rukun-rukun agama. Islam banyak menyebutkan faedah shalat dan memerintahkan orang agar memelihara dan mendirikannya karena Allah, dengan tunduk, khusyuk, menghadapkan diri, dan mencurahkan hati sepenuhnya kepada-Nya.

Demikianlah efek shalat bagi manusia. Shalat mampu menggerakkan bidang dan bentuk yang stagnan dalam kehidupan. Shalat mampu mencairkan kebekuan hidup yang hampa. Shalat mampu membangun komunikasi yang hangat, baik secara horizontal dan vertikal. Shalat mampu menerangi gelapnya jalan hidup yang penuh dusta, kemunafikan, kesombongan, dan sebagainya.

Sabtu, 25 April 2009

"Rehat sejenak untuk menikmati buminya Allah di belahan dunia yang lain"

Kudedikasikan hidup ini sepenuhnya untuk ibadah ke sang Khaliq, menebar ilmu dipermukaan bumi Allah pencipta seisi jagad ini. Bukankah telah diwajibkan atas orang-orang mukmin untuk mencari ilmu dari alam rahim sampai alam kubur.

"Ilmu yang tidak diamalkan bagai pohon yang tak berbuah", untuk itulah kubagikan semua ilmu yang ada semoga bisa bermanfaat untuk semua"

"Mari kita manfaatkan sisa umur kita ini untuk senantiasa berbuat baik kepada sesama"
CONTACT US:
M. Farkhan Habib

SMP Al Hikmah
Jl. Kebonsari LVK V Jambangan
Surabaya 60233
Telp. 031-8288228, Fax : 031-8282752

e-mail: om_farkhan@yahoo.com