1. Shalat sebagai unsur pembentuk kepribadian seorang mukmin
Shalat merupakan unsur kedua dari unsur-unsur keimanan perorangan. Di samping itu, ditampilkan pula bahwa shalat merupakan salah satu unsur dari unsur-unsur kebaikan dan kebenaran yang telah ditetapkan Allah bagi hamba-Nya. Allah menyeru hamba-Nya untuk menunaikannya. Allah menjadikan unsur tersebut sebagai kebenaran keimanan mereka dan mengangkat mereka sebagai orang-orang yang bertakwa. Selain itu, shalat merupakan sarana bagi pencapaian pahala orang yang mengabdi untuk kemaslahatan umum. Sebagaimana difirmankan Allah SWT.
2. Pengaruh shalat bagi pendidikan kejiwaan
Sebaliknya, Al-Qur`an juga menegaskan bahwa meninggalkan shalat merupakan tanda tenggelam seorang manusia ke dalam hawa nafsu dan jatuhnya ke dalam jurang kecelakaan dan kesesatan. Hal ini juga merupakan salah satu sebab di antara sebab-sebab keabadiannya kelak di dalam neraka.
Di dalam surat Al-Ma’un terdapat isyarat kuat yang menyatakan bahwa melalaikan shalat, tidak menunaikan hak Allah di dalam hal kekhusyukan (perasaan diawasi Allah dan perasaan akan keagungan-Nya) sebagai sebab besar di dalam mendustakan keberadaan Hari Kiamat, menghina anak yatim, dan menyia-nyiakan hak fakir miskin. Ini
Pada dasarnya, shalat lima waktu merupakan rangkaian perjalanan menghadap Tuhan, yang telah diwajibkan Allah kepada hamba-Nya di dalam waktu yang berbeda, pada setiap siang dan malam hari. Di dalam shalat, seorang mukmin melepaskan dirinya dari segala urusan duniawi dan menumpahkan seluruh pengabdiannya kepada Tuhannya dengan cara mengingat kebesaran-Nya, bermunajat kepada-Nya, dan memohon pertolongan serta petunjuk dari-Nya.
Di dalam shalat itu pula, dia menyerahkan diri sepenuhnya ke dalam perlindungan Tuhan Yang Maha Pengasih, sambil menghayati kebesaran-Nya yang mutlak. Ia menjadi kecil di hadapan kebesaran-Nya dari segala kebesaran yang ada dalam kehidupan dunia ini. Sesungguhnya perjalanan ini dapat melepaskan duka nestapa, meringankan kesengsaraan, dan mewujudkan segala keinginannya yang baik.
"Telah diwujudkan kecintaanku tercurah kepada shalat."
4. Ibadah jasmaniyah tertua sepanjang risalah ketuhanan
5. Shalat pengiring keimanan
Demikianlah efek shalat bagi manusia. Shalat mampu menggerakkan bidang dan bentuk yang stagnan dalam kehidupan. Shalat mampu mencairkan kebekuan hidup yang hampa. Shalat mampu membangun komunikasi yang hangat, baik secara horizontal dan vertikal. Shalat mampu menerangi gelapnya jalan hidup yang penuh dusta, kemunafikan, kesombongan, dan sebagainya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar