Sabtu, 26 Desember 2020

ANAKKU PELITA HATIKU

 


Buah jatuh tak jauh dari pohonnya pepatah ini sering kali terdengar ketika kita membahas tentang anak. Pada masa usia emas merupakan masa yang penting, cepat sekali mengcopy apa yang dilihat kemudian menirukan dalam bentuk gerak maupun verbal. Oleh karena itu lingkungan rumah harus benar-benar kita siapkan untuk mendukung pembentukan karakternya. Berikut cerita keseharian ku bersama dua biadadari yang semakin berajak dewasa dengan segala tingkah polahnya.

Disuatu kesempatan ketika pulang sekolah sebelum masa pandemi Echa anak pertamaku selalu bercerita selama perjalanan, dan bertanya ke saya “Yah kenapa kita sebagai muslimah harus berjilbab”, wah ini harus dicarikan kalimat dan contoh yang mudah dicerna untuk anak sesusia Dia, akhirnya saya coba membuat ilustrasi. Begini kak “Misal kak Echa punya 2 permen yang 1 dibungkus rapi, satunya terbuka, kemudian 2 permen tersebut diletakkan di atas meja selama 1 jam saja, kira-kira apa yang terjadi”. Saya berharap dia bisa menjawab sesuai umurnya ternyata benar dia menjawab dengan polos pengetahuan fakta yang biasa “Permen yang tidak dibungkus pasti dihinggapi lalat kemudian bisa mengandung penyakit, atau di datangi semut beramai-ramai dimakan bersama”. Betul terus jika dihubungkan dengan memakai jilbab tadi bagaimana….?, Dia mencoba menyimpulkan dengan tersenyum-senyum “Oooo bener juga ya Yah…..oke aku sudah mengerti sekarang, jadi orang memakai jilbab itu sebenarnya melindungi dirinya masing-masing dari lalat jahat dan kotoran yang bakalan mengganggu kita”.Dalam hati saya berkata jawaban anak ini diluar dugaan saya yakin ini diperoleh dari proses pembelajaran yang selama ini dialami disekolahnya. Saya melanjutkan jawabannya tadi kenapa kita harus memakai jilbab tentu karena perintah Allah SWT.

Pada kesempatan lain gantian anak kedua saya Aira, ketika pulang sekolah dia selalu ceria dan menyapa semua anggota keluarga, setiap hari selalu bercerita apa saja yang telah dilakukan disekolahnya mulai dari berangkat bertemu dengan ustadzah nya sampai pulang dijemput, murajaah doa-doa harian dan surat-surat pendek nampak begitu mudah. Pada suatu ketika Ayahku ke rumah, Aira sangat senang sekali ketika Mbahnya datang, pasti karena sering mengajak jalan-jalan main ke taman perumahan. Kedatangannya sudah ditunggu-tunggu sejak pagi, setelah datang kemudian diajaklah Aira keluar, tiba-tiba dia lari masuk dan bertanya “Mana jibak-ku (jilbab), aku mau main sama Mbah”, dia mencari ditempat biasa dan agak lama, kemudian terjadilah percakapan antara Mbah dengan Aira, “Wes gak usah nggawe ngunu sumuk (Sudah tidak perlu pakai Jilbab nanti panas keringatan)”. Aira menjawab “Ndak mau, aku ndak mau main kalau ndak pakai jibak (Jilbab)”. Akhirnya beliau pun tersenyum dan mengajak keluar main seperti yang diinginkan Aira. Ketika pulang dari main sengaja kudekati dan bertanya, “Kenapa harus pakai jilbab kalau keluar”, Dia menjawab “ya biar sama kayak Ibu, kalau keluar pasti pakai jilbab, biar ndak kena debu sama sinar matahari” itulah jawaban polos Aira yang masih 4 tahun.

Pada kesempatan lain ketika saya datang dari luar karena tergesa-gesa sangking hausnya langsung menuju ke dapur dan mengambil segelas air untuk menghilangkan dahaga yang menyelimuti tenggorakan, tak sadar jika saya tadi minum sambal berdiri, spontan Aira kecil keluar dari kamar dan langsung berkata “Lho Ayah kok minum sambil berdiri kan ndak boleh, ingat layashrobaan ahadukum qoiman, janganlah minum sambil berdiri” itu kata ustadzahku tadi”. Bak tersambar petir di kemarau panjang, kagetnya luar biasa spontan saya ucapkan “Astaghfirullah iya Ayah lupa” sambil ku kecup keningnya dan berucap terima kasih sayang. Tidak selesai begitu saja kesalahanku tadi, ternyata diceritakan kepada ibu dan kakaknya bahwa hari ini saya melakukan kesalahan yang fatal yaitu minum sambal berdiri, setiap kegiatan makan bersama selalu diingatkan oleh Aira kecilku. Seakan Allah sedang mengingatkanku dari mulut polos anak kecil ini. Ya Allah ini baru didunia kesalahan yang saya lakukan diceritakan sekeluarga dan semakin malu rasanya, begini rasanya balasan kesalahan yang engkau berikan, padahal ini baru didunia, bagaimana nanti ketika diakhirat yang diketahui oleh seluruh manusia seisi jagad raya ini pasti lebih dahsyat malunya. Seperti biasa pada malam hari saya dan Aira bersama-sama melihat film kartun kesukaan dia, setiap adegan di cermati dan di komentari, mulai makan dan minum sambil berdiri dan lain sebagainya, seakan ingin mengingatkan ku agar tidak mengulangi pada hari-hari berikutnya.

Alhamdulillah aku telah dikarunia buah hati yang menyejukkan keluarga. Ini bisa terjadi bukan karena tiba-tiba, tetapi sebagai orang tua harus benar-benar merencanakan bagaimana pendidikan bisa membentuk mereka menuju muslim sejati, “Madrasah” yang pertama adalah rumah (Teladan seluruh anggota keluarga) kemudian Madrasah formal yang diselenggararakan lembaga pendidikan yang akan mewarnai karakter anak, ketika kita salah memilihkan berarti kita sedang menjerumuskan anak-anak kita ke lembah kenistaan selama hidupnya. Pilihkan anak-anak kita lembaga pendidikan yang memberi bekal kehidupan Islami berdasar Al-Quran dan Sunnh Rasulullah SAW. Serta senantiasa mendoakan mereka disetiap 5 waktu dan 1/3 malam terakhir. Barangkali ini yang dimaksud dari hadits termashur, “Jika anak Adam meninggal dunia, maka akan terputus semua amalnya kecuali 3 perkara, Shadaqah Jariyah, Ilmu yang bermanfaat, dan Anak Sholeh yang selalu mendoakan”. Nah kita sebagai orang tua semestinya secara naluri diberi oleh Allah untuk melakukan 3 hal tersebut, shodaqoh jariyah kepada keluarga dan lingkungan sekitar serta berikhtiar mencarikan pendidikan yang terbaik agar mereka mendapat ilmu yang bermanfaat sehingga mau dan mampu mendoakan kita kelak ketika sudah kembali ke haribaan Ilahi rabbi.

Investasi yang tak akan pernah merugi adalah investasi pendidikan untuk anak karena sejatinya kita sedang berniaga dengan Pemilik Kehidupan Kita Allah Azzawajalla, bukan investasi harta, properti, saham, reksa dana dan emas yang menghasilkan uang demi memanjakan keinginan belaka dan mengesampingkan kebutuhan pendidikan anak. Anak adalah amanah Allah SWT yang harus kita jaga dan kita hantarkan ke pintu surga bersama-sama keluarga nanti.

Diterbitkan Embrio Publisher dalam program Sedekah Literasi oleh Komunitas MUBAR di Prakarsai oleh sang Maestro Rolis Awang Widodo yang termashur dengan tagline Salam BARIS.

 



 

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar