Oleh : M. Farkhan Habib
Jauh sebelum menginjakkan kaki ke Surabaya untuk melanjutkan studi lanjut
ke IKIP Surabaya sekarang UNESA, tepatnya menjelang UNAS tingkat MAN/SMU yang
bertepatan dengan pengumuman penerimaan mahasiswa jalur PMDK dan alhamdulillah nama saya tertulis di pengumuman itu, tersirat dibenak
saya “Berarti saya akan mejadi guru”, ketika itu lamunan saya tertuju pada
sosok guru Fiqih yang mengajar di kelas
pada saat itu, dimana beliau sangat disukai teman-teman sekelas karena kearifan
dan kebijaksanaan beliau. Ketika beliau sudah berada di dalam kelas tidak
satupun dari teman-teman beranjak dari tempat duduk. Biasanya ketika guru yang
mengajar “membosankan” ada saja ulah teman-teman, yang sering ijin ke belakang,
yang ngatuk, ijin ke UKS dan sebagainya.
Seusai wisuda dari UNESA maka resmilah saya mendapatkan “lisensi” untuk mengajar di sekolah-sekolah formal. Masih terngiang dan terpatri
kuat gambaran guru ideal memenuhi kepala ini, dan pertanyaan yang tak kalah
terbayang adalah “apakah saya bisa?” saya berangan-angan jika nanti saya jadi
guru maka hal yang pertama yang harus saya lakukan adalah menarik perhatian
siswa agar ‘senang dan nyaman’ jika ketemu dalam forum pembelajaran ataupun di
luar kelas. Jika kesan pertama sudah positif maka selanjutnya terserah kita mau
dibawa kemana mereka.
Seiring perjalanan waktu selama 7 tahun ini banyak pelajaran yang sudah
saya peroleh ketika berinteraksi dengan siswa di sekolah, setiap tahun selalu
bertemu dengan siswa-siswa yang memiliki keunikan masing-masing. Barangkali
itulah keindahan dan karunia yang tak pernah kita dapatkan jika kita berprofesi
lain. Belum lagi ketemu dengan orang tua mereka yang memiliki segudang cerita
tentang kehidupan keluarga masing-masing. Dari sini saya merasa bahwa guru
adalah orang kepercayaan orang tua dalam mendidik ilmu pengetahuan umum dan
agama.
Guru “digugu lan ditiru”
barangkali itulah takdir kita sebagai guru, kesabaran senantiasa mengalir dalam
setiap helaan nafas kita dan senantiasa kita jadikan sebagai sapu tangan
pembasuh tatkala kita lelah menerpa, keikhlasan senantiasa menyatu dalam darah
yang mengalir ke seluruh bagian tubuh kita dan tak pernah berhenti sedetikpun,
ketabahan senantiasa menjadi perisai kita dikala duka menghampiri. Sebagai
pewaris dan penerus dakwah para Nabi, Kita harus menjadi orang yang “kuat”
dimata anak-anak kita.
Alinea diatas bisa menjadi pemompa semangat saya untuk senatiasa menjadi penebar dakwah penerus risaah Ilahi dibidang
pendidikan dari generasi ke generasi. Banyak hal yang harus kita persiapkan
agar kita benar-benar bisa menjadi guru yang patut dihormati dan ditiru.
Pengalaman dan bekal pertama adalah bagaimana kita bisa menjadi kepala keluarga
yang bisa menentramkan seisi rumah, senantiasa menjadi motivator dikala
kesusahan dan masalah sedang melanda keluarga, berusaha menjadi ayah yang
sempurna bagi anak-anak kita dan dan menjadi partner hidup bagi istri kita.
Berbagai ketrampilan juga wajib kita kuasai yang meliputi kemampuan
pedagogik secara holistik, serta berbagai ketrampilan-ketrampilan dalam
rangkaian pembelajaran di kelas yang meliputi ketrampilan menjelaskan,
ketrampilan bertanya, ketrampilan memberikan penguatan dan ketrampilan
pengelolaan kelas. Untuk meningkatkan berbagai ketrampilan tersebut ada satu
aktifitas yang bermanfaat ganda yaitu ketrampilan menulis. Menulis dapat
dijadikan sebagai wahana untuk mengepkspresikan segala keinginan secara bebas.
Seiring dengan perkembangan teknologi informasi, menulis bisa digunakan
sebagai wahana dakwah dan pendidikan yang lebih fleksibel dan efisien yang
tidak dibatasi oleh ruang dan waktu siapa saja bisa membaca. Menulis adalah
bagian yang tak terpisahkan dari guru, jika seorang guru sudah kehilangan
selera menulis pertanda bahwa guru tersebut sudah kehilangan selera membaca,
jika seorang guru sudah kehilangan selera membaca pertanda ilmunya akan
berhenti dan tidak jauh beda dengan orang jualan jamu, tiap hari menyampaikan
kalimat-kalimat yang sama kepada pembeli, laku dan dapat uang adalah tujuan
utama.
Menulis merupakan salah satu alternatif sarana untuk berbagi pengalaman dan
pengetahuan, jika dikelas yang kita hadapi adalah siswa tetapi lewat tulisan
bukan hanya siswa tetapi masyarakat luas dengan segala bentuk keragamannya,
untuk itu aturan-aturan penulisan harus kita pegang dengan baik agar tidak
mengundang perbedaan persepsi antar pembaca satu dengan yang lain. Ketika
tulisan kita banyak yang membaca maka semakin cepat pula apa yang kita
sampaikan tersebar ke seluruh kalangan.
Jika bisa digambarkan menulis dan mengajar (sebagai
guru) adalah dua sisi mata uang yang saling mendukung dan tak dapat
terpisahkan, jika salah satu saja tidak dikembangkan atau tidak ada maka uang
tersebut tidak ternilai. Oleh karena itu menulis adalah ketrampilan yang mutlak
dimiliki oleh guru. Untuk dapat menulis bisa dimulai dengan strategi pertama
banyak membaca, dengan membaca maka akan banyak kosakata yang kita peroleh
dengan berbagai situasi yang berbeda. Kemudian setelah membaca maka berlatih
menceritakan kembali bacaan yang kita baca dengan menuangkan dalam bentuk
tulisan dengan bahasa dan alur sesuai keinginan kita tetapi tetap memperhatikan
kaidah penulisan bahasa yang baik dan benar. Sebagai seorang guru menulis bisa
dimulai dengan tema-tema yang sesuai dengan subyek yang diampunya, dimulai
dengan membaca berbagai bacaan sesuai subyek yang diampu kemudian membuat
tulisan berupa konsep-konsep dasar ilmu yang diampunya dengan menyertakan
sumber-sumber yang dipakai agar tulisan kita bisa dipertanggung jawabkan secara
ilmiah dan valid.
Ada strategi yang kedua yaitu menuliskan segala
kejadian yang terjadi pada kehidupan kita mulai dari bangun tidur sampai dengan
tidur kembali. Menulis bebas seperti ini sangat mudah dan siapapun bisa
melakukan tergantung kemauan. Jika kita sering berlatih dan meluangkan waktu
untuk sekedar menulis, insyaallah ketrampilan menulis kita akan terasah dan
semakin baik.
Dengan demikian menulis sebenarnya aktifitas yang
sangat mudah jika kita tahu kapan dan dimana kita harus mulai. Jika dikaitkan
antara menulis dan mengajar adalah dua aktifitas berkaitan dan tak terpisahkan
satu sama lain.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar