Minggu, 15 September 2013

Tafakkur ke Negeri Sultan Ahmad II



 Bandara Internasional Attaturk


Merupakan kesempatan emas bagiku, barangkali ini adalah kesempatan yang tak kan terulang ke dua kalinya, yaitu berkunjung ke negeri dua benua, Istanbul-Turkey itulah nama negara yang pernah ku dengar ketika belajar sejarah islam pada masa SMA dulu. Perjalanan yang sangat melelahkan hampir 14 jam kuhabiskan waktu di pesawat dengan rute Surabaya – Jakarta – Kuala lumpur – Istanbul, rasa letih semalaman dipesawat seakan terhapus dengan sentuhan udara pagi yang cukup sejuk ketika keluar dari bandara Internasional Attaturk. Pagi itu adalah hari pertama aku menikmati daratan Eropa dan pertama kali pula sarapan pagi dengan menu khas Eropa, hmmmm ndak ada nasi........

  Sarapan pagi di sebuah resto dekat selat Bosporus
 
Selama satu minggu aku berada disana untuk  belajar peradaban dan menikmati bangunan-bangunan bersejarah nan indah mempesona dengan nilai seni yang sangat tinggi. Kokoh, besar dan panjangnya benteng konstantinopel dapat aku lihat sepanjang perjalanan. Benteng ini berhadapan dengan pantai Istanbul, dikarenakan tujuan dari pendirian benteng ini adalah untuk pencegahan masuknya musuh dari arah laut. Selain mengagumi besar dan kokohnya benteng Konstantinopel. Seberapapun kokohnya benteng namun bisa dijebol dan dikalahkan oleh semangat  dan keberanian yang besar dibawah pimpinan Sultan Muhamad 2 yang masih sangat muda belia. Dari sultan Muhamad 2 kita bisa belajar bahwa semangat itu bisa mengalahkan apapun, maka belajarlah dengan semangat dan pantang menyerah.
  Salah satu sudut Benteng Konstantinopel
 
Pada kesempatan lain aku juga berkunjung ke Museum Hagia Sophia. Museum ini sangat indah, menawan dengan seni arsitektur kelas atas. Hagia Sophia dulunya Gereja, setelah Sultan Muhamad 2 berhasil menguasai Konstantinopel, fungsi Gereja diubah menjadi masjid tanpa mengubah bentuk gereja semula. Penambahan hanya berupa mihrab (tempat imam) dan mimbar (tempat khotib) serta beberapa menara simbol tempat beribadah orang islam.  


  Sudut luar Masjid Aya Sophia
 
Bagian dalam Masjid Aya Sophia
 
Maka tidak heran diantara tulisan Allah dan Muhammad masih terpampang foto Bunda Maria menggendong Yesus. Selain mengagumi keanggunan, keindahan dan kemegahan Hagia Sophia, kita juga diajarkan makna kemajemukan dan toleransi yang dijunjung tinggi di Turkey. Dengan menjadikan Hagia Sophia sebagai museum, maka umat islam bisa memasuki, umat kristen bisa memasuki, bahkan orang tidak beragamapun boleh memasuki. Hagia Sophia boleh dimasukin siapapun, menunjukkan Turkey menjunjung kemajemukan dan toleransi. Kita diharapakn menjadi manusia yang menjunjung tinggi toleransi, namun tetap memiliki aqidah islam yang mantab dan rasa kebangsaan yang bisa dihandalkan. Oleh pemerintahan Erdogan pada tahun 2020 Aya Sophia difungsikan kembali menjadi Masjid dan tetap dibuka untuk umum bagi yang ingin berkunjung.


Bagian Samping Masjid Aya Sophia


Gapura dimana sang Raja membagi makanan dan lainnya


Tidak jauh dari Hagia Sophia, ada bangunan Istana Topkapi. Istana Topkapi adalah bukti  kejayaan Usmaniyah, kerajaan islam yang menguasai dan memimpin Istanbul dalam ratusan tahun. Istana ini sangat luas, sehingga tidak cukup waktu untuk bisa melihat semua barang peninggalan hanya dalam waktu sehari. Apalagi banyaknya pengunjung meyebabkan antrian panjang dalam setiap ruangan yang akan dikunjungi. Di Istana Topkapi kita bisa melihat barang-barang peninggalan kerajaan, bangunan-bangunan kerajaan yang masih terawat baik dan juga ada museum yang sangat langka. Di meseum Topkapi kita bisa melihat pedang Rasulullah dan pedang para sahabat dan para panglima perang islam. Di museum itu juga terdapat bekas tempat hajar aswad yang berbentuk kelopak bunga namun sudah keropos dibeberapa bagiannya. Tidak itu saja, disana juga ada tongkat yang dipercaya milik nabi Musa, dan beberapa peralatan pribadi para nabi lainnya. Dari museum ini para kita diajak belajar makna menghargai hasil karya orang lain yang bermanfaat bagi kehidupan manusia pada jamannya. Kita patut mencontoh bagaimana orang Islam Turkey menghormati Rasulullah dan para sahabatnya
Peta di sudut Istana Topkapi


Masjid Biru (Blue Mosque) adalah bangunan masjid pertama dan terbesar yang dibangun pada masa itu yang bertujuan untuk menandingi kemegahan Hagia Sophia dan akan menjadi simbol kejayaan islam di konstantinopel.


Depan Masjid Biru yang berhadapan langsung dengan Masjid Aya Sophia

Mampir ke Stadion Turk Telkom yang digunakan sebagai markas besar Galatasaray, salah satu klub sepak bola yang memiliki prestasi luar biasa
Depan Stadionnya Tim Galatasarayi

  Di dalam toko di Stadion
 
Sapphire Tower adalah salah satu bangunan tertinggi di Istanbul yang memiliki lebih dari 54 lantai, dan 10 lantai under ground dengan tinggi bangunan mencapai 260 meter dan untuk mencapai ke lantai tertinggi hanya dibutuhkan waktu kurang dari 1 menit.


  Menara Sappire
 
Untuk mengetahui bagaimana pasukan Sulatan Mehmed 2 menaklukan Konstantinopel, kita bisa berkunjung ke Museum Panorama. Panorama adalah museum tiga dimensi yang sangat menakjubkan

  Museum Panorama
 
Berpose sejenak di depan universitas tertua di Istanbul bersama dengan ratusan merpati yang seakan menyambut dengan riang kedatanganku di sana.

di depan Universitas tertau di Istanbul
 
Di Turkey juga ada masjid Ayyub Al Anshori di dekat makam sahabat Rasulullah Ayyub Al Anshori. Masjid ini selalu dipenuhi oleh para jamaah pada waktu shalat lima waktu. Tidak sedikit para jamaah atau pengunjung sehabis salat di masjid menyempatkan mendekati makam sahabat Rasul yang rela berpindah tempat ke Istanbul dalam usia yang sudah tua, hanya demi menyaksikan penaklukan Konstantinopel oleh pasukan islam.
 
  Di dalam Masjid Ayyub Al Anshori
 
Perjalanan ke Istanbul belum lengkap kalau belum menyeberangi Selat Bosphurus dengan naik kapal ferry yang banyak disewakan di tempat itu. Selat Bhoporus sangat indah dan menakjubkan. Makanya tidak heran kalau banyak yang berpendapat bahwa selat Bhosporus adalah cuilan surga yang ada di dunia.  Di atas kapal Ferry, kita bisa leluasa menikmati keindahan bangunan bangunan yang ada di tepi pantai tersebut. Sebelah kiri kita melihat bangunan bangunan berbilai seni tiggi di daratan Benua Eropa. Sedangkan disebelah kanan kita bisa melihat bangunan-bangunan yang berada di daratan benua Asia. Dari atas kapal Ferry yang sedang melintas di selat Bhosporus inilah kita gampang memahami kenapa ada perbedaan peradaban antara Eropa dan Asia. Kokohnya jembatan Sultan Mehmed yang membenteng di atas selat Bosphorus menambah takjub kita. Selain panjang dan kokoh, jembatan ini juga tidak lepas dari nilai arsitektur kelas tinggi. Jembatan ini menghubungkan benua Eropa dan Asia. Dengan menyeberangi selat Bosphorus, kita diajarkan bahwa hidup harus bisa bersinergi dalam keanekaragaman. Selat bukan penghalang, namun selat justru jadi pemersatu dua benua.  Jadilah mediator yang baik demi pergaulan dan peradapan dunia yang lebih baik. 
 
 
Tepi Selat Bosphorus
 
 
Rehat sejenak di Kuala Lumpur sebelum terbang lagi ke tanah air tercinta Jakarta Indonesia

Di Bandara Malaysia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar