Bandara Internasional Attaturk
Merupakan kesempatan emas bagiku,
barangkali ini adalah kesempatan yang tak kan terulang ke dua kalinya, yaitu
berkunjung ke negeri dua benua, Istanbul-Turkey itulah nama negara yang pernah ku dengar ketika belajar sejarah islam pada masa SMA dulu. Perjalanan yang
sangat melelahkan hampir 14 jam kuhabiskan waktu di pesawat dengan rute
Surabaya – Jakarta – Kuala lumpur – Istanbul, rasa letih semalaman dipesawat
seakan terhapus dengan sentuhan udara pagi yang cukup sejuk ketika keluar dari
bandara Internasional Attaturk. Pagi itu adalah hari pertama aku menikmati daratan Eropa dan pertama kali pula sarapan pagi dengan menu khas Eropa, hmmmm ndak ada nasi........
Sarapan pagi di sebuah resto dekat selat Bosporus
Selama satu minggu aku berada disana
untuk belajar peradaban dan menikmati
bangunan-bangunan bersejarah nan indah mempesona dengan nilai seni yang sangat
tinggi. Kokoh, besar dan panjangnya benteng konstantinopel dapat aku lihat sepanjang
perjalanan. Benteng ini berhadapan dengan pantai Istanbul, dikarenakan tujuan
dari pendirian benteng ini adalah untuk pencegahan masuknya musuh dari arah
laut. Selain mengagumi besar dan kokohnya benteng Konstantinopel. Seberapapun
kokohnya benteng namun bisa dijebol dan dikalahkan oleh semangat dan keberanian yang besar dibawah pimpinan Sultan
Muhamad 2 yang masih sangat muda belia. Dari sultan Muhamad 2 kita bisa
belajar bahwa semangat itu bisa mengalahkan apapun, maka belajarlah dengan
semangat dan pantang menyerah.
Salah satu sudut Benteng Konstantinopel
Pada
kesempatan lain aku juga berkunjung ke Museum Hagia Sophia. Museum ini sangat
indah, menawan dengan seni arsitektur kelas atas. Hagia Sophia dulunya Gereja,
setelah Sultan Muhamad 2 berhasil menguasai Konstantinopel, fungsi Gereja
diubah menjadi masjid tanpa mengubah bentuk gereja semula. Penambahan hanya
berupa mihrab (tempat imam) dan mimbar (tempat khotib) serta beberapa menara
simbol tempat beribadah orang islam.
Sudut luar Masjid Aya Sophia
Bagian dalam Masjid Aya Sophia
Maka tidak heran diantara tulisan Allah
dan Muhammad masih terpampang foto Bunda Maria menggendong Yesus. Selain
mengagumi keanggunan, keindahan dan kemegahan Hagia Sophia, kita juga
diajarkan makna kemajemukan dan toleransi yang dijunjung tinggi di Turkey.
Dengan menjadikan Hagia Sophia sebagai museum, maka umat islam bisa memasuki,
umat kristen bisa memasuki, bahkan orang tidak beragamapun boleh memasuki.
Hagia Sophia boleh dimasukin siapapun, menunjukkan Turkey menjunjung
kemajemukan dan toleransi. Kita diharapakn menjadi manusia yang menjunjung
tinggi toleransi, namun tetap memiliki aqidah islam yang mantab dan rasa
kebangsaan yang bisa dihandalkan. Oleh pemerintahan Erdogan pada tahun 2020 Aya Sophia difungsikan kembali menjadi Masjid dan tetap dibuka untuk umum bagi yang ingin berkunjung.
Bagian Samping Masjid Aya Sophia
Gapura dimana sang Raja membagi makanan dan lainnya
Tidak
jauh dari Hagia Sophia, ada bangunan Istana Topkapi. Istana Topkapi adalah
bukti kejayaan Usmaniyah, kerajaan islam
yang menguasai dan memimpin Istanbul dalam ratusan tahun. Istana ini sangat
luas, sehingga tidak cukup waktu untuk bisa melihat semua barang peninggalan
hanya dalam waktu sehari. Apalagi banyaknya pengunjung meyebabkan antrian
panjang dalam setiap ruangan yang akan dikunjungi. Di Istana Topkapi kita bisa
melihat barang-barang peninggalan kerajaan, bangunan-bangunan kerajaan yang
masih terawat baik dan juga ada museum yang sangat langka. Di meseum Topkapi
kita bisa melihat pedang Rasulullah dan pedang para sahabat dan para panglima
perang islam. Di museum itu juga terdapat bekas tempat hajar aswad yang
berbentuk kelopak bunga namun sudah keropos dibeberapa bagiannya. Tidak itu
saja, disana juga ada tongkat yang dipercaya milik nabi Musa, dan beberapa
peralatan pribadi para nabi lainnya. Dari museum ini para kita diajak belajar
makna menghargai hasil karya orang lain yang bermanfaat bagi kehidupan manusia
pada jamannya. Kita patut mencontoh bagaimana orang Islam Turkey menghormati
Rasulullah dan para sahabatnya
Peta di sudut Istana Topkapi
Masjid
Biru (Blue Mosque) adalah bangunan masjid pertama dan terbesar yang
dibangun pada masa itu yang bertujuan untuk menandingi kemegahan Hagia
Sophia dan akan menjadi simbol kejayaan islam di konstantinopel.
Depan Masjid Biru yang berhadapan langsung dengan Masjid Aya Sophia
Mampir ke Stadion Turk Telkom yang digunakan sebagai markas besar Galatasaray, salah satu klub sepak bola yang memiliki prestasi luar biasa
Depan Stadionnya Tim Galatasarayi
Di dalam toko di Stadion
Sapphire Tower adalah salah satu bangunan tertinggi di Istanbul yang memiliki lebih dari 54 lantai, dan 10 lantai under ground dengan tinggi bangunan mencapai 260 meter dan untuk mencapai ke lantai tertinggi hanya dibutuhkan waktu kurang dari 1 menit.
Menara Sappire
Untuk
mengetahui bagaimana pasukan Sulatan Mehmed 2 menaklukan Konstantinopel, kita bisa berkunjung ke Museum Panorama. Panorama adalah museum tiga dimensi yang
sangat menakjubkan
Museum Panorama
Berpose sejenak di depan universitas tertua di Istanbul bersama dengan ratusan merpati yang seakan menyambut dengan riang kedatanganku di sana.
di depan Universitas tertau di Istanbul
Di Turkey juga ada masjid Ayyub Al
Anshori di dekat makam sahabat Rasulullah Ayyub Al Anshori. Masjid ini selalu
dipenuhi oleh para jamaah pada waktu shalat lima waktu. Tidak sedikit para
jamaah atau pengunjung sehabis salat di masjid menyempatkan mendekati makam
sahabat Rasul yang rela berpindah tempat ke Istanbul dalam usia yang sudah tua,
hanya demi menyaksikan penaklukan Konstantinopel oleh pasukan islam.
Di dalam Masjid Ayyub Al Anshori
Perjalanan ke Istanbul belum lengkap kalau
belum menyeberangi Selat Bosphurus dengan naik kapal ferry yang banyak disewakan
di tempat itu. Selat Bhoporus sangat indah dan menakjubkan. Makanya tidak heran
kalau banyak yang berpendapat bahwa selat Bhosporus adalah cuilan surga yang ada di dunia. Di atas kapal Ferry, kita bisa leluasa
menikmati keindahan bangunan bangunan yang ada di tepi pantai tersebut. Sebelah
kiri kita melihat bangunan bangunan berbilai seni tiggi di daratan Benua Eropa.
Sedangkan disebelah kanan kita bisa melihat bangunan-bangunan yang berada di daratan
benua Asia. Dari atas kapal Ferry yang sedang melintas di selat Bhosporus
inilah kita gampang memahami kenapa ada perbedaan peradaban antara Eropa dan
Asia. Kokohnya jembatan Sultan Mehmed yang membenteng di atas selat Bosphorus
menambah takjub kita. Selain panjang dan kokoh, jembatan ini juga tidak lepas
dari nilai arsitektur kelas tinggi. Jembatan ini menghubungkan benua Eropa dan
Asia. Dengan menyeberangi selat Bosphorus, kita diajarkan bahwa hidup
harus bisa bersinergi dalam keanekaragaman. Selat bukan penghalang, namun selat
justru jadi pemersatu dua benua. Jadilah
mediator yang baik demi pergaulan dan peradapan dunia yang lebih
baik.
Rehat sejenak di Kuala Lumpur sebelum terbang lagi ke tanah air tercinta Jakarta Indonesia
Di Bandara Malaysia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar